Pendampingan Kebun Kakao

Mendampingi Petani, dari Bibit ke Biji

Kebun Mitra di Kalimantan · Sejak 2021

Kualitas cokelat ditentukan jauh sebelum biji sampai di rumah produksi. Karena itu kami bekerja di kebun, bukan hanya di pabrik.

Sejak 2021 kami mendampingi petani kakao di Kalimantan: memperbaiki cara rawat kebun, membenahi pascapanen, lalu membeli biji hasilnya dengan harga di atas pasar. Bukan program bantuan sesaat, tapi hubungan dagang yang harus menguntungkan kedua pihak supaya bisa bertahan.

Cara Kerjanya

Lima Tahap yang Kami Ulang Setiap Musim

  1. Pemetaan Kebun

    Mendata luas, umur tanaman, dan naungan tiap kebun mitra, supaya saran perawatannya sesuai kondisi lapangan, bukan resep umum.

  2. Sekolah Lapang

    Pelatihan Good Agriculture Practice: pemangkasan, pengendalian hama penggerek buah, dan pemupukan organik. Dipraktikkan langsung di kebun peserta.

  3. Sambung Pucuk dan Bibit

    Batang tua diremajakan dengan entres klon unggul. Untuk lahan terlantar, kami sediakan bibit dan tanaman naungan.

  4. Fermentasi Tujuh Hari

    Good Handling Practice: sortasi buah, fermentasi kotak tujuh hari, lalu pengeringan bertahap. Tahap inilah yang membentuk rasa.

  5. Pembelian Harga Premium

    Biji terfermentasi yang lolos mutu kami beli langsung, tanpa tengkulak. Harganya sekitar dua kali harga biji asalan.

Sekolah Lapang

Kelompok Tani Bisa Belajar di Kebunnya Sendiri

Kalara Borneo memfasilitasi sekolah lapang untuk kelompok tani yang ingin memperbaiki cara merawat kebun dan menangani hasil panennya. Bentuknya bukan kelas, melainkan praktik di kebun salah satu anggota yang dijadikan lahan percontohan. Fasilitator menjelaskan, lalu peserta mengerjakan sendiri hal yang sama di kebunnya.

Perawatan Kebun

  • P3S, empat pekerjaan pokok yang diulang tiap musim: pemangkasan, pemupukan, panen sering, dan sanitasi kebun
  • Pemangkasan bentuk untuk tanaman muda, dan pemangkasan pemeliharaan untuk tanaman yang sudah berproduksi
  • Pemupukan yang dimulai dari analisa hara tanah, termasuk membuat kompos sendiri dari limbah kulit buah kakao
  • Pengendalian hama terpadu untuk penggerek buah kakao dan Helopeltis, memakai agens hayati dan pestisida nabati mimba
  • Pemilihan bahan tanam unggul dan pembibitan, termasuk sambung pucuk
  • Rehabilitasi kebun tua lewat sambung samping dan sambung pucuk pada tunas air
  • Tumpang sari, menanam kakao berdampingan dengan tanaman lain di lahan yang sama

Penanganan Pascapanen

  • Memanen pada tingkat kematangan yang tepat, lalu menyortir buah sebelum dipecah
  • Pemeraman buah 5 sampai 12 hari, untuk menyeragamkan kematangan sekaligus sebagai pra-fermentasi
  • Memecah buah tanpa melukai biji, dan memisahkan buah busuk dari yang sehat
  • Fermentasi dalam kotak kayu, tinggi tumpukan minimal 40 cm, ditutup daun pisang atau karung goni
  • Pembalikan biji pada hari ketiga, lalu penilaian tingkat fermentasi lewat uji potong
  • Pengeringan sampai kadar air paling tinggi 7 persen, lapisan biji 3 sampai 5 cm, dibalik tiap dua jam
  • Sortasi dan pengkelasan biji kering, penyimpanan, serta pencatatan agar tiap lot bisa ditelusuri

Materinya mengacu pada Kurikulum Nasional Budi Daya Berkelanjutan dan Pasca Panen Kakao terbitan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian, bersama Cocoa Sustainability Partnership. Kelompok tani yang ingin ikut bisa menghubungi kami.

Dua petani mitra perempuan memegang buah kakao hasil panen di kebun
Petani

Yang Belajar Bukan Hanya Petaninya

Setiap pelatihan berjalan dua arah. Petani mempelajari teknik pascapanen yang menaikkan mutu biji, dan kami mempelajari kondisi kebun yang tidak terlihat dari data: pola hujan, hama musiman, kebiasaan panen yang sudah turun-temurun.

Sampai hari ini 164 petani adat sudah mengikuti pelatihan Good Agriculture Practice dan Good Handling Practice. Sebagian di antaranya kini melatih tetangganya sendiri.

Biji kakao basah di dalam kotak fermentasi kayu, ditutup daun pisang
Mutu

Fermentasi Menentukan Rasa Akhirnya

Biji kakao yang dijemur tanpa fermentasi hanya menghasilkan rasa pahit datar. Fermentasi tujuh hari di kotak kayu memberi waktu bagi pulp untuk memicu reaksi yang membentuk prekursor rasa cokelat.

Kami memeriksa setiap lot dengan cut test sebelum membeli: berapa persen biji yang terfermentasi penuh, berapa yang slaty, berapa yang berjamur. Hasilnya dikembalikan ke petani sebagai catatan perbaikan, bukan sekadar alasan menawar harga.

Pandangan udara sungai yang membelah tegakan hutan Kalimantan
Lahan

Kakao di Bawah Tegakan Hutan

Kebun mitra kami mengikuti sistem tembawang, tradisi agroforestri Dayak yang menanam kakao berdampingan dengan durian, rambutan, dan pisang. Naungan pohon besar menjaga kelembapan tanah dan menekan serangan hama.

Pendekatan ini menutup satu celah yang sering muncul di komoditas: tidak ada insentif untuk membuka hutan baru, karena nilai kebunnya justru datang dari tegakan yang dipertahankan. Sampai 2026 sudah 45 hektar lahan terlantar yang diaktifkan kembali sebagai area demonstrasi.

Hasil di Lapangan

  • 164+ Petani adat mengikuti pelatihan GAP dan GHP
  • 45 Ha Lahan terlantar diaktifkan jadi agroforestri
  • +50% Kenaikan produksi biji kakao terfermentasi
  • Harga biji terfermentasi dibanding biji asalan
Ikut Terlibat

Punya Kebun Kakao, atau Ingin Mendukung Programnya?

Kami terbuka untuk petani yang ingin bergabung, dan untuk lembaga yang ingin bermitra dalam pendampingan.

OK